Lamunan dalam Bus

thumb_besar.php      

          Pagi hari telah menjelang, tampak sinar-sinar matahari merayap masuk celah rumah tuk bangunkan ku dari mimpi yang indah. Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan, alasanya? yap, hari ini ada praktikum yang memaksaku untuk memakan banyak waktu berdiam diri di bus. Aku benci perjalanan, setiap perputaran rodanya membuat seluruh tubuh ini serasa ikut diputar, perut ikut bergunjang dan otak terasa ditekan. Tidak sampai muntah, tapi sejujurnya pusingnya sangat menyiksa. Benar saja, sesampainya dikampus terlihat 2 buah bus terparkir dengan gagahnya, bus kecil dengan beberapa “peyok”  di sisinya, seolah menandakan ketangguhan bus di setiap perjalanannya. Bus ini tanpa AC, hanya ada sedikit angin dari celah cendela yang memang sulit untuk dibuka., sumpek oleh mahasiswa lain yang tak kebagian tempat duduk. Oke ini sempurna, perjalanan yang mungkin hanya 1 jam tapi setiap detiknya akan sangat menyiksa.

     Tentu antisipasi sudah dipersiapkan, untuk mengalihkan otak agar tidak terbayang gunjangan perjalanan, kupasang earphone dan setel lagu yang kuinginkan dengan volume maksimal. Disaat bunyi lagu mulai merengsek masuk di gendang telinga, bersamaan pula masa “apatis”ku dimulai. Tak peduli seperti apa keadaan sekitar, bahkan ketika bus ini masuk kejurang pun aku tak peduli asal aku tetap nyaman dengan kabel apatis yang melekat ditelinga dan bebas rasa pusing dikepala. Belum juga bus ini bergerak, kenyamananku sudah terusik, kala melihat seorang wanita yang biasa disebut dengan asisten ini berdiri diantara kursi yang telah disinggahi orang lain dan tepat ada didepanku. Bukan berlagak seperti superhero, tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika melihat seorang wanita berdiri, sedangkan aku asik dan nyaman menempelkan pantat di kursi yang keras ini. Tapi yah, sayangnya keegoisanku akan takutnya rasa pusing diperjalanan mengubur semua rasa peduliku. Apatis, memang menyenangkan bagi pemiliknya, tapi tak bermanfaat bagi lingkungannya. Hingga akhirnya ending yang terlihat adalah aku orang jahat yang membiarkan wanita itu tetap berdiri sepanjang perjalanan. Tapi masa bodo’ untukku.
          Sepanjang perjalanan, jalan yang dilalui sangat menanjak. Bus ini harus terus bergetar, berpanas-panas dengan gesekan mesin untuk melaju. Getarannya membuat kepala ini mulai berputar, tapi entah kenapa justru aku terlintas untuk membandingkan bus “peyok” ini dengan kehidupan yang kujalani. bus ini, senantiasa memaksa mesinnya harus terus bergerak, bergetar, bahkan bergesekan untuk mencapai lokasinya. Justru ketika mesin ini tidak bergesekan dan berhenti bergetar maka ada kemungkinan mesin ini rusak, atau bahkan tidak dinyalakan. Seperti halnya kita, ketika memiliki tujuan yang ingin dicapai, haruslah siap untuk bergesekan dengan keadaan, justru ketika kita merasa nyaman, tanpa adanya hantaman keadaan, terjangan kelelahan dan rasa sakit, itu berarti kita sedang dalam posisi “mesin tidak menyala”, yang berarti kita tidak sedang bergerak kemanapun dan hanya berdiam diri dalam ilusi kenyamanan. Memang tidak disangka, bahkan bus yang membuat fisik ini sakit, justru menyehatkan jiwa bila bisa mengambil nilai dari sudut pandang yang lain. Bus ini mencoba menyampaikan nilai kehidupan, melalui getaran mesinnya yang biasanya membuat perutku mual. Tapi ah rasa pusingnya seolah memudarkan semuanya.  Bus ini menyampaikan pesan tersirat, bahwa ” hidup ini harus terus berjalan, apabila kita stagnan dalam satu tempat kita tidak akan mendapatkan apa-apa”.

           Perjalananpun masih berlanjut. Rasa apatisku kembali terusik, mendengar tawa teman-teman dibelakang yang menggusur suara lagu dari “earphone”ku. Merusak semua nada yang terangkai, karena kini tertutup oleh tawa mereka. Tentu ada niat untuk berontak ada didalam hati ini, namun kembali kucoba melihat sesuatu yang lain dari sudut pandang yang berbeda. Melihat sekitar bus ini, ternyata tidak semua orang berada dalam posisi yang sama, disamping kawan-kawanku yang asik bercanda dengan tawanya terdengar dari ujung ke ujung, ternyata ada yang justru tetap terlelap dalam tidurnya, ada yang hanya berdiam diri melihat jalan dari jendela, bahkan ada juga yang berteriak tak jelas menyapa pengguna jalan lainnya. Ini mengingatkanku satu hal, kita menuju lokasi yang sama, yaitu lokasi tempat praktikum dengan sarana yang sama, namun proses perjalanan untuk mencapai lokasinya yang berbeda. Ada yang saling berbagi dengan orang lain, ada yang bergerak sendiri karena tak tahu mana yang harus diikuti, ada yang hanya sekedar mencari eksistensi, bahkan ada yang apatis seperti aku ini, yang hanya berpikir “yang penting aku sampai tujuan”. Yap, dari bus peyok ini aku mengais ilmu yang samar tapi menerangkan, dari lamunan ini aku  mengambil pelajaran hidup yang tertuliskan disini. 

Taman Remaja Islam

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s